Penanganan Cedera Kepala Pada Anak

Orang dewaa bisa mencederai anak dalam berbagai tingkat kegawatan, salah satunya berakibat cedera kepala sebagai cedera utama. Karena wajib mengidentifikasi anak yang disiksa sejelas mungkin, perlu waspada akan terjadinya dan bagaimana terjadinya penyiksaan. Hal ini akan memberi kewaspadaan akan terjadinya child abuse :

  • Penyebab cedera tidak dapat diterangkan.
  • Keterlambatan yang jelas dalam mencari pertolongan.
  • Cedera yang jelas berbagai bagian anggota tubuh bersamaan dengan cedera kepala sedang atau ringan.
  • Radiograf menunjukkan berbagai usia cedera.
  • Anak dilaporkan sebagai tiba-tiba menjadi lemah atau pincang.

Anak biasanya tidak mengalami cedera kepala bila jatuh dari ketinggian rendah. Bila riwayat anak jatuh dari sofa, harus curiga bila anak dalam koma. Orang-tua biasanya tidak terlambat mencari pertolongan, berlawanan dengan yang menyiksa anaknya yang datang terlambat dengan berbagai alasan. Anak tidak biasanya setelah mengalami cedera kemudian tiba-tiba menjadi lemah kecuali ia mendapat serangan kejang. Mereka umumnya memberat, hingga berbagai tingkat ancaman herniasi dan koma. Karenanya bila salah satu dari yang tertera diatas dijumpai, segera singkirkan kemungkinan child abuse sebagai penyebab cedera kepala.

  • Fraktur Tengkorak. Seperti pada dewasa, fraktura tengkorak linier menunjukkan terjadinya benturan berat. Walau fraktura semata tidak memerlukan tindakan, pasien harus dirawat untuk pengamatan. Sudah dibuktikan kerusakan intrakranial berat terjadi pada 9-11% kasus baik dengan atau tanpa fraktura. Fraktura basiler terjadi pada 3-4% anak dengan cedera kepala. Biasanya tampil dengan perdarahan dibelakang membran timpani atau kombinasi dengan hematoma dibelakang telinga (tanda Battle), ekkhimosis periorbital, atau kebocoran CSS sebagai otorea atau rinorea. Saraf otak ketujuh atau kedelapan mungkin kena. Pasien harus dirawat dan diawasi akan terjadinya meningitis bakterial. Bila terjadi kebocoran CSS, dianjurkan pemberian antibiotika, biasanya penisilin atau turunannya. Fraktura depres ditindak seperti dewasa, kecuali bila terjadi pada bayi baru lahir dengan fraktura kecil didaerah yang aman yaitu temporal. Sista leptomening jarang, namun penting, sebagai komplikasi fraktura tengkorak. Biasa pada anak dibawah 3 tahun dan berhubungan dengan fraktura diastatik yang panjang. Tandanya adalah terabanya pembengkakan yang tidak nyeri yang makin lama makin besar. Terjadinya adalah karena robekan dura dan arakhnoid diikuti pembesaran fraktura dan erosi tulang akibat pulsasi otak. Perbaikan secara bedah.
  • Cedera Lahir. Lesi bedah-saraf tersering pada neonatus adalah fraktura tengkorak. Fraktura linier tidak begitu penting. Fraktura depres ditindak seperti diatas bila besar dan menekan otak, atau bila terjadi didaerah yang secara neurologis penting. Darah bisa terkumpul dibawah galea sebagai hematoma subgaleal atau dibawah periosteum sebagai hematoma periosteal akibat trauma saat dilahirkan. Bila besar dapat berakibat anemia atau hiperbilirubinemia pada neonatus yang kecil. Pasien ini biasanya hanya diobservasi. Jarang diindikasikan tindakan bedah seperti aspirasi atau drainasi.
  • Cedera Kepala Tertutup. Mungkin cedera kepala tersering pada usia anak-anak adalah cedera kepala tertutup relatif ringan. Kadang-kadang dikelompokkan kedalam konkusi, yaitu kehilangan sementara kesadaran diikuti pemulihan neurologis sempurna kecuali mungkin amnesia. Istimewa pada anak adalah beratnya reaksi sistemik terhadap cedera kepala dibanding dewasa. Bayi dan balita sering menampakkan pucat, muntah, atau mengantuk berat bahkan akibat cedera kepala sangat ringan. Kesulitan merawat pasien ini adalah kita tidak tahu pertambahan beratnya trauma SSP atau apakah kelainan terus berlanjut. Seperti dijelaskan sebelumnya, anak harus dievaluasi secara penuh. Foto tengkorak dilakukan untuk mengetahui adanya fraktura, dan bila gejala cukup bermakna, anak dirawat, periksa sken CT, dan observasi selama 24 jam. Bila anak tidak dirawat, orang-tua harus mendapat instruksi tanda-tanda perburukan neurologis.Cedera kepala tertutup berat, lebih sangat serius.Tindakan sama dengan dewasa. Keistimewaan anak dengan cedera kepala tertutup berat, sken CT mungkin memperlihatkan pembengkakan otak difus. Majoritas pasien ini mengalami hiperemia dan vasodilatasi pada serebrovaskulatur yang akan meninggikan tekanan intrakranial. Ini terjadi antara hari 1-5 setelah cedera.
  • Hematoma Ekstradural. Terjadi sedikit lebih sering pada anak-anak dibanding dewasa. Tampilan klinis seperti dewasa. Diagnosis berdasar CT bila ada cukup waktu ; bila perburukan sangat cepat pasien langsung dioperasi. Pasien dengan lessi massa diberikan mannitol, hiperventilasi dengan intubasi dan segera dioperasi.
  • Hematoma Subdural. Pada balita dan remaja, tampilan serupa dengan dewasa. Namun pada bayi sangat muda, tampilan secara umum lebih difus. Tampak pucat dengan fontanel penuh dan mungkin disertai defisit neurologis. Diagnosis dengan CT dan tidak dengan tap diagnostik. Hematoma subdural kronik pada anak lebih sering dibanding yang akut. Cedera merupakan etiologi penting namun sulit menentukan waktu yang tepat serta jenis cederanya. Tanda-tanda dan gejala-gejala khas tidak terlokalisir dan sub akut,yaitu muntah, mudah terangsang, gagal tumbuh, kejang, dan pembesaran kepala pada anak yang suturanya belum menutup. Fontanel pada bayi juga menonjol. CT adalah tindakan diagnostik terpilih. Setelah diagnosis ditegakkan, segera alirkan dengan pintas subdural-peritoneal untuk mengurangi tekanan intrakranial serta mengatasi masalahnya. Bila proteinnya tinggi, dapat tanpa menggunakan katup.

Indikasi operasi darurat.

  • Interval lucid (bila CT tidak tersedia segera).
  • Herniasi unkal (pupil/motor tidak ekual).
  • Fraktura depres terbuka.
  • Fraktura depres tertutup lebih dari 1 tabula.
  • Massa intrakranial dengan pergeseran garis tengah 5mm atau lebih.
  • Massa ekstra aksial 5 mm atau lebih, uni/bi lateral.
  • #5/#6 kurang dari 5 mm tapi mengalami perburukan atau sisterna basal terkompres.
  • Massa lobus temporal 30 ml Atau lebih.

Indikasi tidak berlaku bila MBO.

  • Umumnya lebih baik dari dewasa bila berat traumanya ekual, mekanisme cedera sama, dan tindakan yang sama. Adanya serta jenis lessi massa berpengaruh pada hasil akhir. Lessi massa lenbih jarang dibanding pada dewasa. Kematian juga lebih kecil pada anak-anak. Paling jelas adalah pada anak dengan flaksid serta pupil berdilatasi dan tanpa reaksi terhadap cahaya, mortalitas hanya 33%.
  • Pendekatan tindakan pada semua anak dengan cedera kepala berat harus segera ditindak dengan usaha maksimal. Bahkan anak dengan cedera yang membinasakan secara mengejutkan dapat pulih dengan baik.

POINT OF INTEREST CEDERA KEPALA PADA ANAK

  • Sebagian seperti merawat orang dewasa yang kecil, namun kebanyakan adalah unik hingga pengenalan masalah yang khusus tsb. harus diutamakan.
  • Anak-anak sering secara mengejutkan membaik bahkan dengan cedera kepala sangat berat, karenanya diindikasikan usaha maksimal dalam arti diagnosis segera, tindakan agresif, serta rehabilitasi maksimal.
  • Pencegahan anak kecil untuk tidak jatuh, ikat pinggang pengaman sesuai usia, mengawasan ketat pada anak (tidak bermain dijalan) akan memastikan menurunnya kesakitan dan kematian pada anak.

Current Allergy Immunology by Widodo Judarwanto

www.growupclinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GROW UP CLINIC I Address: JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021) 5703646 – 44466102 GROW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Address: Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 44466103 – 29614252 www.growupclinic.com Facebook: FB-Growup Clinic Page Facebook : Allergy Clinic Online. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician Editor: Audi Yudhasmara email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online

“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.

Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s