Permasalahan Kegemukan Pada Anak

Obesitas kini menjadi masalah besar di negara-negara maju. Obesitas maupun kegemukan bukan masalah estetika atau penampilan. Namun, ini adalah penyakit. Meski tidak ada data secara nasional, tetapi obesitas sudah menjadi pandemi di Indonesia. Saat ini, diperkirakan ada 300 juta orang di dunia yang menderita obesitas. Jumlah ini setara dengan jumlah penduduk yang kelaparan. Di Amerika Serikat, menurut data tahun 2003, anak yang obesitas sudah mencapai 15 persen penduduk. Di Inggris, hampir seperempat dari anak berusia empat dan lima tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Para ahli memperkirakan, 63 persen anak-anak bisa mengalami kelebihan berat badan pada 2050 jika tren ini berlanjut.
Sementara itu, di Tanah Air, menurut Riskesdas 2010 terdapat 14 persen anak usia 0-5 tahun yang kegemukan.

Anak yang mengalami kegemukan sudah membawa bibit penyakit. Jadi kelebihan berat badan pada anak adalah berbahaya dan obesitas ini bisa kita sebut sebagai penyakit. Obesitas pada anak beresiko terjadi gangguan seperti gangguan pembuluh darah, jantung, diabetes dan hipertensi selain itu obesitas pada anak juga akan berdampak ketika dewasa.

Anak berusia sembilan tahun dengan berat badan berlebih memiliki risiko penyakit jantung. Resiko ini meningkat jika mereka tidak menormalkan berat badan sampai usia 15 tahun. Timbunan lemak dalam tubuh memicu tekanan darah tinggi dan meningkatkan kadar kolesterol darah dan insulin. Kondisi kegemukan yang dialami anak-anak sejak kecil jelas meningkatkan resiko kematian dini.

Obesitas atau kegemukan diartikan sebagai penimbunan jaringan lemak tubuh secara berlebihan sehingga berat badan telah melebihi batas ambang normal dan dapat membahayakan kesehatan anak. Atau suatu keadaan dimana berat badan lebih dari 20 % dari berat badan ideal dan keadaan ini terjadi pada anak jika makanan sehari-hari mengandung energi yang melebihi kebutuhan anak dan biasanya terdapat pada anak yang cepat merasa lapar dan tidak mau menahan rasa lapar.

Deteksi Obesitas
Deteksi obesitas dapat dilakukan dapat dilihat pada KMS, dimana disitu ada
batasan serta garis kesesuaian antara berat badan, tinggi badan dan usianya. Apabila di atas garis hijau, maka kemungkinan anak Anda memiliki berat badan berlebih.

Dari WHO-NCHS, tidak ada klasifikasi overweight atau obesitas. Sehingga,
indikator ini sulit dilihat secara objektif. Cara yang lain adalah dengan
melihat grafik IMT (BMI, Body Mass Index) khusus anak di atas 2 tahun.

Dampak Obesitas Pada Anak

Anak-anak yang kegemukan atau memiliki berat badan yang sangat berlebih (obesitas) terancam berbagai penyakit kronis, seperti diabetes melitus, penyakit kardiovaskular, henti napas saat tidur, osteoartritis, hingga gangguan pubertas pada anak perempuan.

Orangtua yang memiliki anak obesitas disarankan untuk mulai mengambil langkah menurunkan berat badan anak agar anak terhindar dari risiko penyakit. Kembalikan anak pada pola hidup sehat. Asupan kalorinya tidak boleh lebih dari 1.600 per hari, perbanyak aktivitas fisik, dan cermati komponen makannya.

Penelitian menunjukkan, 1 dari 6 remaja gemuk menderita pra-diabetes, suatu keadaan ketika toleransi terhadap glukosa terganggu. Jika diintervensi dengan pola makan yang benar selama 20 bulan, maka anak bisa terhindar dari diabetes. Bila sudah divonis diabetes, maka seumur hidup anak akan diabetes.

Saat usia 10 tahun anak yang kegemukan atau orangtuanya menderita diabetes sebaiknya melakukan pemeriksaan gula darah jangan ditunggu sampai remaja atau dewasa.

Penyakit-penyakit yang dahulu dianggap sebagai penyakit usia lanjut dan dewasa, kini dapat dialami pada anak akibat timbunan lemak, kolesterol dan gula yang terdapat dalam tubuh. Gangguan pernafasan atau asthma beresiko besar dialami anak yang mengalami obesitas Selain itu, anak-anak dengan kelebihan berat badan atau kegemukan juga dapat mengalami kesulitan bergerak dan terganggu pertumbuhannya karena timbunan lemak yang berlebihan pada organ-organ tubuh yang seharusnya berkembang. Belum lagi efek psikologis yang dialami anak, misalnya ejekan dari teman-teman sekelas pada anak-anak yang telah bersekolah. Anak yang mengalami kegemukan akan lebih mudah berkeringat sehingga seringkali mereka menderita biang keringat, lecet, dan terinfeksi jamur karena adanya lipatan-lipatan kegemukan pada kulitnya. Lipatan kegemukan tersebut biasanya terjadi di leher, lipatan antara paha dan kaki, lipatan di perut, dan lipatan di ketiaknya. Karena berat badan berlebih, anak juga cenderung malas bergerak atau melakukan aktivitas.

Penyebab Obesitas

Faktor Genetik atau faktor keturunan dari orang tua yang sulit dihindari. Bila ayah atau. ibu memiliki kelebihan berat badan, maka hal ini dapat diturunkan pada anak.
Jika kedua orang tua mengalami obesitas maka kemungkinan anak menjadi obes yaitu 80% dan jika salah satu orang tua maka kemungkinannya 40%.
Keturunan atau latar belakang pada suatu bangsa atau suku akan berpengaruh
besar baik secara langsung atau tidak langsung misalnya kebiasaan makan makanan yang mengandung banyak energi dan kurang olahraga Sebab terpenting timbulnya obesitas pada anak-anak dan remaja yaitu misalnya anak yang sedang bersedih dan memisahkan diri dari lingkungan timbul rasa lapar yang berlebih sebagai kompensasi terhadap masalahnya.

Berbagai faktor eksternal yang dapat dianggap sebagai penyebab obesitas anak. Makanan cepat saji dan makanan ringan dalam kemasan. Maraknya restoran cepat saji merupakan salah satu faktor penyebab. Anak-anak sebagian besar menyukai makanan cepat saji atau fast food bahkan banyak anak yang akan makan dengan lahap dan menambah porsi bila makan makanan cepat saji. Padahal makanan seperti itu umunya mengandung lemak dan gula yang tinggi yang menyebabkan obesitas. Orang tua yang sibuk sering menggunakan makanan cepat saji yang praktis dihidangkan untuk diberikan pada anak mereka walaupun kandungan gizinya buruk untuk anak. Makan cepat saji meski rasanya nikmat namun tidak memiliki kandungan gizi untuk pertumbuhan dan perkembangan anak. Itu sebabnya makanan cepat saji sering kita sebut dengan istilah junk food atau makanan sampah. Selain itu kesukaan anak-anak pada makanan tingan dalam kemasan atau makanan manis menjadui hal yang patut diperhatikan

MSG bukan faktor utama penyebab kegemukan, tetapi penderita obesitas atau kegemukan pada umumnya mengonsumsi makanan ber-MSG terlalu banyak. MSG merupakan bahan tambahan pangan yang paling banyak dipakai di dunia, terutama pada masakan Asia, untuk memberikan rasa gurih. Para ilmuwan menduga orang yang suka makanan ber-MSG menjadi gemuk karena porsi makan bertambah akibat rasa lezat makanan. Sementara itu, studi lain menunjukkan bahwa MSG mengganggu sistem sinyal di tubuh yang mengatur nafsu makan.

Penelitian yang diungkapkan dalam American Journal of Clinical Nutrition, He dan timnya mengikuti lebih dari 10.000 orang di China selama 5,5 tahun. Para peneliti mengukur asupan MSG secara langsung pada kemasan makanan, sebelum dan sesudah dikonsumsi, untuk mengetahui dengan akurat berapa banyak yang dikonsumsi. Para peneliti juga menanyai para responden berapa banyak konsumsi MSG dalam 24 jam terakhir. Pria dan wanita yang mengonsumsi MSG cukup banyak (sekitar 5 gram sehari) berisiko 30 persen lebih tinggi mengalami kenaikan berat badan pada akhir penelitian dibanding dengan yang lebih sedikit mengasup makanan ber-MSG. Kemudian, orang-orang yang sudah tergolong obesitas tidak dimasukkan dalam perhitungan, risikonya sekitar 33 persen.

Minuman ringan
Sama seperti makanan cepat saji, minuman ringan (soft drink) terbukti memiliki
kandungan gula yang tinggi sehingga berat badan akan cepat bertambah bila
mengkonsumsi minuman ini. Rasa yang nikmat dan menyegarkan menjadikan anak-anak sangat menggemari minuman ini.

Siklus obesitas manusia dimulai sejak masih dalam kandungan. Sebuah penelitian terbaru menemukan bahwa wanita hamil yang kelebihan berat badan, merokok, dan memiliki kebiasaan makan yang buruk, meningkatkan risiko obesitas pada anak-anak mereka di masa depan, meskipun saat lahir berat bayi masih kurang. Times Magazine melansir bahwa satu dari 10 anak di bawah usia dua tahun kelebihan berat badan. Penelitian lain yang dilakukan sedasawarsa lalu menunjukkan anak-anak yang lahir dari ibu yang menderita diabetes selama hamil (gestational diabetes) cenderung memiliki indeks massa tubuh (BMI) lebih tinggi sepanjang masa kanak-kanak mereka. Itulah sebabnya, wanita dengan kelebihan berat badan dianjurkan untuk menurunkan berat badan sebelum kehamilan. Hal ini penting untuk mencegah risiko diabetes pada anak-anak mereka.

Pencegahan Obesitas

  • Makanan yang kaya nutrisi tetapi tidak berkalori tinggi, seperti gandum, buah-buahan dan sayuran, protein tanpa lemak, serta susu rendah lemak sangat. baik untuk dikonsumsi. Ganti konsumsi soda dan jus buah dengan air atau susu rendah lemak. Tambahkan sedikit minyak sehat (canola atau zaitun) untuk mendapatkan vitamin E yang hilang akibat diet rendah lemak.
  • Bermain dan bergerak adalah dunia buah hati. Selain belajar, aktivitas fisik seperti bermain, berlari, berguling bermanfaat untuk kesehatan si kecil. Ini pula kunci agar menghindarkan buah hati dari kegemukan atau obesitas lantaran terlalu sering melakukan aktivitas pasif seperti menonton acara televisi. Orang tua harus membatasi aktivitas pasif anak seperti menonton acara televisi. Para orangtua kini lebih banyak menempatkan anak-anak mereka di kursi mobil, berkeliling menggunakan kereta dorong ketimbang membiarkan anak aktif merangkak, bermain dan berlari. Balita juga harus berjalan minimal 15 menit secara rutin. Tak perlu melakukan aktivitas berjalan di luar rumah, namun membiarkan si kecil berjalan di dalam rumah dan kamar pun bisa membantu mereka tetap aktif. Membiarkan anak-anak merangkak, bermain atau berguling-guling di lantai sangat penting selama tahun-tahun awal. Aktivitas fisik selama tiga jam sangat penting untuk kesehatan buah hati di masa depan.

 

  • Batasi waktu menonton TV. Televisi, komputer, dan video game telah menjadi alat rekreasi yang dominan dalam masyarakat kita. Batasi anak anda menonton televisi atau berada di depan layar komputer tidal lebih dari 2 jam. Dan hindari televisi pada anakberusia dibawah 2 tahun. Jika sudah waktunya tidur terapkan apda anakuntuk segera masuk kedalam kamar.

Tips-tips untuk Mengurangi berat badan bagi obesitas

  • Batasi jumlah makanan dan minuman tinggi kalori dan gula seperti coklat, minuman bersoda, biskuit, kue, dan es krim. Anda dapat menggantinya dengan yang lebih sehat seperti seperti buah-buahan, jus buah, agar-agar, kripik sayuran, dan susu rendah lemak.
  • Masak makanan dengan dibakar atau dikukus. Ayam, ikan dan sosis bukan hanya lebih lezat bila dibakar, namun juga memiliki kandungan lemak lebih rendah.
  • Beri contohyang baik dengan kebiasaan makan Anda sendiri.
  • Ajarkan anak Anda untuk makan lebih lambat dan menikmatinya, karena dia akan merasa lebih cepat kenyang dan cenderung tidak makan berlebihan pada waktu makan.
  • Lakukan kegiatan makan bersama dalam satu keluarga sesering mungkin.
  • Jangan jadikan makanan cepat sajisebagai acara rutin mingguan.
  • Kurangi makanan ringan yang dimakan sambil beraktivitas. Jangan biarkan anak Anda makan sambil menonton televisi atau melakukan pekerjaan rumah.
  • Dorong anak Anda untuk “mendengarkan perutnya” dan makan hanya ketika lapar, bukan karena kebiasaan, dan berhenti makan bila dia sudah kenyang.
  • Ajari anak untuk memesan makanan sehat ketika makan di luar, misalnya lebih memilih menu gado-gado daripada sate kambing.
  • Tetapkan batas waktu nonton TV dan bermain komputer. Dorong anak Anda untuk melakukan kegiatan aktif sebagai gantinya. Anak-anak harus melakukan aktivitas fisik minimal 60 menit setiap hari
  • Lakukan acara olahraga keluarga seperti berjalan kaki, naik sepeda, berenang atau bermain bulu tangkis.
  • Dorong anak untuk berjalan atau bersepeda ke sekolah atau ke toko, tidak selalu naik mobil atau motor.
  • Tanamkan kebiasaan hal ini perlu dimulai dari keluarga kita.
  • Peran orang tua sangat penting, orang tua harus terlebih dahulu menjadi contoh bagi putra putrinya. Misalnya bila sebuah keluarga biasa mengkonsumsi es krim setiap hari padahal sudah mengalami obesitas, maka orang tua harus bisa memberi contoh, dengan tidak atau mengurangi konsumsi es krim. Jangan sampai terjadi, orang tua melarang putra-putrinya mengkonsumsi es krim tetapi orang tuanya sendiri makan es krim. cobalah ganti snack tinggi kalori dengan buah, jus buah, puding, dan lain-lain dengan tampilan yang menarik.
  • Jangan lupa untuk tetap memberi pendidikan kepada anak tentang makanan yang sehat, tentunya dengan bahasa yang dimengerti oleh anak. Terapkan kebaikan dan kegunaan suatu makanan kepada anak, misalnya buah pepaya mengandung vitamin untuk kesehatan mata dan lain sebagainya
  • Dalam menghentikan konsumsi snack tinggi kalori, oleh karena itu cobalah secara bertahap yakni dengan mengurangi dan menggantinya sedikit demi sedikit.

www.growup-clinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GRoW UP CLINIC I Jl Taman Bendungan Asahan 5 Bendungan Hilir Jakarta Pusat 10210, phone (021) 5703646 – 085100466102 – 085101466103 GRoW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430, Phone (021) 021-29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 – 08131592-2012 email : judarwanto@gmail.com http://growupclinic.com http://www.facebook.com/GrowUpClinic Creating-hashtag-on-twitter@growupclinic. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 089841841 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr WIDODO JUDARWANTO, pediatrician email : judarwanto@gmail.com curriculum vitae Creating-hashtag-on-twitter: @WidoJudarwanto www.facebook.com/widodo.judarwanto Mobile Phone O8984181481 PIN BB 76211048
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2015, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s