Anakku Mudah Sakit dan Sering Minum Obat

Seorang ibu muda sangat khawatir terhadap kondisi anak semata wayangnya. Sejak usia 6 bulan hingga 3 tahun hampir tiap bulan selalu ke dokter karena sakit. Bahkan tidak jarang harus ke dokter sebulan dua atau tiga kali. Tidak hanya itu, buah hatinya itu selama ini telah lima kali masuk rumah sakit karena sakit. Keluhan yang sering dialami adalah batuk, pilek, muntah, diare dan panas. Kekawatiran orangtua ditambah lagi karena anak tersebut sudah terlalu sering minum obat apalagi antibiotika adalah konsumsi rutin setiap sakit. Bahkan karena seringkali sakit dan kenaikkan berat badan juga terganggu penderita akhirnya didiagnosis dan diobati sebagi TBC. Padahal setelah dikonfirmasi ulang pemeriksaan lengkap diagnosis tersebut tidak terbukti

Beberapa kelompok anak usia tertentu dan kelompok tertentu sering mengalami hal demikian. Ada dua penyebab utama mengapa hal itu terjadi. Faktor utama adalah daya tahan tubuh yang tidak optimal. Faktor penting lainnya biasanya terdapat kontak orang lain yang juga mudah mengalami infeksi berulang.

Dikatakan infeksi berulang pada anak bila infeksi sering dialami oleh seorang anak. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Pada infeksi berulang ini terjadi yang berbeda dengan anak yang normal dalam hal kekerapan penyakit, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan.

Kekerapan penyakit adalah frekuensi terjadinya penyakit dalam periode tertentu. Pada infeksi berulang terjadi bila terjadi infeksi lebih dari 8 kali dalam setahun atau bila terjadi infeksi 1-2 kali tiap bulan selama 6 bulan berturut-turut. Penelitian yang telah dilakukan Cleveland Clinic Amerika Serikat, bahwa pada anak normal usia < 1 tahun rata-rata mengalami infeksi 6 kali pertahun, usia 1-5 tahun mengalami 7-8 kali pertahun, anak usia 5-12 tahun mengalami 5-7 kali pertahun dan anak usia 13-16 tahun mengalami 4-5 kali pertahun.

Demam sering sangat tinggi atau lebih  39 C. Dengan penyakit yang sama anak lain dengan infeksi mungkin hanya mengalami demam sekitar 38- 38,5 C.

Dalam keadaan infeksi berulang atau sakit hilang timbul berurutan dalam waktu dekat, penderita seringkali mengalami lekosit yang tinggi naik turun meskipun mengalami infeksi yang ringan. Biasanya jumlah hitung lekositnya meningkat menjadi 17.000-23.000. Beberapa penderita dalam keadaan sehatpun setelah beberapa minggu saat diperiksa lekosit menetap sekitar 15000 – 17.000.

Permasalahan yang dialami penderita infeksi berulang pada anak sering mengalami komplikasi tonsillitis kronis (amandel), nyeri telinga, otitis media (infeksi telinga), pembesar kelenjar di sekitar leher, gagal tumbuh atau berat badan sulit naik.

Pada penderita tonsilitis sering mengalami overtreatment atau tindakan yang kadang tidak perlu atau berlebihan dengan pemberian antibiotika atau dilakukan tonsilektomi operasi tonsil atau amandel. Beberapa kasus mengalami overdiagnosis tuberculosis atau anak tidak mengalami sakit TBC tetapi diobati sebagai TBC.

Dalam kasus jarang anak mengalami pnemoni, mastoiditis, sepsis (infeksi berat), ensefalitis (radang otak) atau meningitis (radang selaput otak). Atau sebaliknya anak yang mengalami penyakit seperti itu biasanya daya tahan tubuhnya buruk.

Gangguan perilaku sering menyertai penderita infeksi berulang diantaranya adalah gangguan tidur, gangguan emosi, gangguan konsentrasi dan gangguan belajar. Problem sosial yang dihadapi adalah terjadi peningkatan biaya berobat yang sangat besar dan  mengganggu absensi sekolah.
Gangguan ini lebih sering terjadi pada usia anak, sehingga sangat mengganggu tumbuh dan berkembangnya anak.

Penderita infeksi berulang sering dialami oleh penderita alergi dan hipersensitif pencernaan. Penderita alergi adalah seringkali mengalami keluhan batuk, pilek dan demam. Seringkali yang lebih utama keadaan batuk pilek yang diderita sebenarnya bukan gejala langsung alerginya tetapi akibat daya tahan tubuh menurun sehingga sering terjadi infeksi saluran napas berulang.

Infeksi berulang inilah yang seringkali dianggap sebagai gejala alergi. Karena memang seringkali penderita bahkan dalam keadaan tertentu dokter sulit membedakan alergi atau infeksi.
Infeksi berulang pada anak adalah infeksi yang sering dialami oleh seorang anak khususnya infeksi saluran napas akut. Kondisi ini diakibatkan karena rendahnya kerentanan seseorang  terhadap terhadap terkenanya infeksi. Biasanya infeksi berulang ini dialami berbeda dalam kekerapan kekambuhan, berat ringan gejala, jenis penyakit yang timbul dan komplikasi yang diakibatkan. Gangguan ini sering terjadi pada penderita alergi dan pada penderita defisiensi imun, meskipun kasus yang terakhir tersebut relatif  jarang terjadi.

Gangguan defisiensi sistem kekebalan berat juga sering mengalami infeksi berulang, tetapi kasus ini sangat jarang terjadi.  Diantaranya adalah adanya gangguan beberapa tipe defisiensi sistem imun berupa defisiensi myeloperoxidase, Severe Combined Immunodeficiency Disease (SCID), Cystic fibrosis, defisiensi Ig A selektif, defisiensi komplemen C4b dan kelainan autoimun lainnya.

Kekebalan tubuh manusia

Sistem kekebalan tubuh manusia diantaranya adalah kekebalan tubuh tidak spesifik. Disebut tidak spesifik karena sistem kekebalan tubuh ini ditujukan untuk menangkal masuknya segala macam zat  dari luar yang asing bagi tubuh dan dapat menimbulkan penyakit, seperti berbagai macam bakteri, virus, parasit atau zat-zat berbahaya bagi tubuh.
Sistem kekebalan yang tidak spesifik berupa pertahanan fisik, kimiawi, mekanik dan fagositosis.  Pertahanan fisik berupa kulit dan  selaput lender sedangkan  kimiawi berupa ensim dan keasaman lambung.  Pertahan mekanik adalah gerakan usus, rambut getar dan  selaput lender. Pertahanan  fagositosis adalah penelanan kuman/zat asing oleh sel darah putih dan zat komplemen yang berfungsi pada berbagai proses pemusnahan kuman atau zat asing. Kerusakan pada sistem pertahanan ini akan memudahkan masuknya kuman atau zat asing ke dalam tubuh. Misalnya, kulit luka, gangguan keasaman lambung, gangguan gerakan usus atau proses penelanan kuman atau zat asing oleh sel darah putih (sel leukosit).
Salah satu contoh kekebalan alami adalah mekanisme pemusnahan bakteri atau mikroorganisme lain yang mungkin terbawa masuk saat kita makan. HCl yang ada pada lambung akan mengganggu kerja enzim-enzim penting dalam mikroorganisme. Lisozim merupakan enzim yang sanggup mencerna dinding sel bakteri sehingga bakteri akan kehilangan kemampuannya menimbulkan penyakit dalam tubuh kita. Hilangnya dinding sel ini menyebabkan sel bekteri akan mati. Selain itu juga terdapat senyawa kimia yang dinamakan interferon yang dihasilkan oleh sel sebagai respon adanya serangan virus yang masuk tubuh. Interferon bekerja menghancurkan virus dengan menghambat perbanyakan virus dalam sel tubuh. Adanya gangguan tersebut mengakibatkan adanya gangguan sistem imun yang berfungsi menghancurkan jamur, virus dan bakteri.

Dapat dikatakan bahwa mekanisme pertahanan tubuh hampir sebagian besar atau sekitar 70% dibentuk di saluran cerna. Penderita infeksi berulang sering mengalami saluran cerna yang sensitif hal ini juga sering terjadi ada penderita alergi, hipersensitifitas makanan, bayi prematur atau bayi dengan riwayat TRDN atau sesak sementara atau sesak  1-5 hari saat bayi baru lahir. Gangguan sesak saat bayi baru lahir ini sering dianggap terminum cairan ketuban.

Terdapat empat penyebab utama dari infeksi berulang pada anak, diantaranya adalah paparan dengan lingkungan, struktur dan anatomi organ tubuh, masalah sistem kekebalan tubuh (mekanisme system imun yang berlebihan (penderita alergi) atau kekurangan)   atau penyakit infeksi yang tidak pernah diobati dengan tuntas. Faktor genetik diduga ikut berperanan dalam gangguan ini. Pada genetik tertentu atau salah satu orang tua yang saat kecil mudah sakit juga mungkin diturunkan pada anaknya, terutama anak dan orangtua yang mempunyai wajah yang sama.

Faktor lingkungan seperti kontak dengan sumber infeksi sangat berpengaruh. Biasanya faktor kontak yang uutama adalah penderita lain yang juga mudah sakit di rumah. Pada orang biasa biasanya hanya diertai gejala mudah flu, batuk atau kadang hanya sekedar badan mudah capek atau badan ngilu. Myagia atau badan pegel ini sebenarnya adalah salah satu gejala infeksi virus. Gejala itu selama ini sering dianggap kecapekan, kurang tidur atau kena angin.

Gangguan funsi saluran cerna yang terjadi pada penderita yang mudah, pada usia bayi tampak anak mudah muntah, mual terutama saat di bawah usia 1 tahun. Atau usia bayi mengalami GER (Gastrooesephageal Refluks). Di atas usia 1 tahun biasanya mual atau muntah saat naik mobil, batuk, menangis atau berlari.
Nyeri perut berulang, sering kembung Penderita punya riwayat sulit BAB (buang air besar), tidak BAB tiap hari, sering kotoran hitam, bulat seperti kotoran kambing, keras dan bau tajam. Sariawan, mulut berbau, yeri perut berulang, mulut berbau, gigi rusak (caries), gusi berdarah, lidah kering dan sering berdarah, lidah sering putih, berpulau-pulau atau kotor.

Gangguan saluran cerna ini kadang diikuti gagal tumbuh atau gangguan kenaikkan berat badan.
Gejala lain yang menyertai adalah sering batuk, pilek, asma, gangguan kulit, mimisan.

Penanganan

Untuk mencegah terjadinya infeksi berulang kita harus mengidentifikasi penyebab dan faktor resiko. Bila pada anak kita mengalami gejala alergi mungkin penyebab utamanya adalah faktor alergi. Penanganan alergi yang terpenting adalah penghindaran penyebab alergi khususnya penghindaran makanan tertentu yang beresiko mengganggu.

Bila daya tahan tubuh menurun tersebut terjadi pada penderita alergi maka pengendalian gejala alergi khususnya gangguan saluran cerna harus diperbaiki. Untuk menangani gangguan alergi yang paling penting adalah mengenali dan menghindari penyebab alergi. Pada penderita alergi dengan gangguan saluran cerna penyebab yang paling sering adalah alergi makanan. Penentuan penyebab alergi makanan adalah bagian paling sulit dari penanganan alergi. Diagnosis alergi makanan dibuat berdasarkan diagnosis klinis, yaitu anamnesa (mengetahui riwayat penyakit penderita) dan pemeriksaan yang cermat tentang riwayat keluarga, riwayat pemberian makanan, tanda dan gejala alergi makanan sejak bayi dan dengan  eliminasi dan provokasi. Untuk memastikan makanan penyebab alergi harus menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC). DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis  dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.

Faktor resiko infeksi berulang adalah faktor lingkungan. Lingkungan yang harus diwaspadai adalah kontak terhadap paparan infeksi seperti anggota keluarga yang banyak, anggota keluarga yang juga mengalami infeksi berulang, perokok pasif, kolam renang, bepergian ke tempat umum yang padat pengunjung, sekolah terlalu dini dan  penitipan anak saat ibu bekerja.
Pemberian imunisasi terutama influenza dan imunomudulator tertentu mungkin membantu mengurangi resiko ini. Tetapi pemberian vitamin dengan kandungan bahan dan rasa seperti ikan laut, aroma jeruk atau coklat  mungkin akan memperparah  masalah yang sudah ada. Pemberian imunisasi dan imunomudulator seringkali tidak banyak bermanfaat bila faktor penyebab utama alergi tidak diperbaiki. Karena, banyak kasus meskipun sudah melakukan imunsasi influenza dan minum vitamin rutin tetapi tetap saja sering sakit.

Pemberia obat saat batuk atau pilek kalau keluhannya ringan dan tidak menggangu sebaiknya dihentikan. Karena bila penyebabnya infeksi virus dalam 5-7 hari akan membaik. Pemberian antibiotika pada infeksi berulang tampaknya tidak harus diberikan karena penyebab yang paling sering adalah karena infeksi virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter  yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi pernapasan atas yang sering disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri  Sedangkan pemberian antibiotika mungkin diperlukan pada penderita infeksi berulang dengan gangguan defisiensi imun primer, dan kasus ini sangat jarang terjadi.

www.growupclinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GROW UP CLINIC I Address: JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021) 5703646 – 08131592-2012 GROW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Address: Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 www.growup-clinic.com Facebook: FB-Growup Clinic Page Facebook : Allergy Clinic Online. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician Editor: Audi Yudhasmara email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Online
“GRoW UP CLINIC” Jakarta Focus and Interest on: *** Allergy Clinic Online *** Picky Eaters and Growup Clinic For Children, Teen and Adult (Klinik Khusus Gangguan Sulit Makan dan Gangguan Kenaikkan Berat Badan)*** Children Foot Clinic *** Physical Medicine and Rehabilitation Clinic *** Oral Motor Disorders and Speech Clinic *** Children Sleep Clinic *** Pain Management Clinic Jakarta *** Autism Clinic *** Children Behaviour Clinic *** Motoric & Sensory Processing Disorders Clinic *** NICU – Premature Follow up Clinic *** Lactation and Breastfeeding Clinic *** Swimming Spa Baby & Medicine Massage Therapy For Baby, Children and Teen ***We are guilty of many errors and many faults. But our worst crime is abandoning the children, neglecting the fountain of life.
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s