Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Pada Anak

wpid-wp-1444642770426.jpgPencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual Pada Anak

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat kekerasan seksual terhadap anak mengalami peningkatan luar biasa. Berdasarkan catatan KPAI, dari 2012 sampai 2013, kekerasan seksual meningkat sebesar 30 persen. Sejak Januari sampai April 2014 saja sudah lebih dari 12 sekolah yang menjadi lokasi praktek kejahatan seksual keseluruhan terjadi lebih dari 85 perkara. Data dan fakta vtersebut seharusnya diberlakukan keadaan darurat kekerasan seksual pada anak Indonesia

Terungkapnya kasus pencabulan terhadap murid TK JIS Jakarta, pelecehan seksual pada anak di Lampung oleh guru atau pelecehan seksual anak SD di Banda Aceh oleh tersangka Brigadir M, menambah deretan panjang kejahatan seksual terhadap anak. Tren kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia dalam tiga tahun terakhir meningkat drastis.

Aktivis perempuan dan perlindungan anak yang tergabung dalam Jaringan Pemantau Aceh 231 mencatat, tahun lalu angka kekerasan seksual terhadap anak di provinsi itu mencapai 70 kasus. Angka ini naik 43 kasus dibanding tahun 2012.

Pelecehan seksual terhadap anak adalah suatu bentuk penyiksaan anak di mana orang dewasa atau remaja yang lebih tua menggunakan anak untuk rangsangan seksual.Bentuk pelecehan seksual anak termasuk meminta atau menekan seorang anak untuk melakukan aktivitas seksual (terlepas dari hasilnya), memberikan paparan yang tidak senonoh dari alat kelamin untuk anak, menampilkan pornografi untuk anak, melakukan hubungan seksual terhadap anak-anak, kontak fisik dengan alat kelamin anak (kecuali dalam konteks non-seksual tertentu seperti pemeriksaan medis), melihat alat kelamin anak tanpa kontak fisik (kecuali dalam konteks non-seksual seperti pemeriksaan medis), atau menggunakan anak untuk memproduksi pornografi anak.

Efek kekerasan seksual terhadap anak antara lain depresi,gangguan stres pascatrauma, kegelisahan, kecenderungan untuk menjadi korban lebih lanjut pada masa dewasa, dan dan cedera fisik untuk anak di antara masalah lainnya.Pelecehan seksual oleh anggota keluarga adalah bentuk inses, dan dapat menghasilkan dampak yang lebih serius dan trauma psikologis jangka panjang, terutama dalam kasus inses orangtua.

Di Amerika Utara, sekitar 15% sampai 25% wanita dan 5% sampai 15% pria yang mengalami pelecehan seksual saat mereka masih anak-anak.Sebagian besar pelaku pelecahan seksual adalah orang yang dikenal oleh korban mereka; sekitar 30% adalah keluarga dari si anak, paling sering adalah saudara laki-laki, ayah, paman, atau sepupu; sekitar 60% adalah kenalan lainnya seperti ‘teman’ dari keluarga, pengasuh, atau tetangga, orang asing adalah pelanggar sekitar 10% dalam kasus penyalahgunaan seksual anak.Kebanyakan pelecehan seksual anak dilakukan oleh laki-laki; studi menunjukkan bahwa perempuan melakukan 14% sampai 40% dari pelanggaran yang dilaporkan terhadap anak laki-laki dan 6% dari pelanggaran yang dilaporkan terhadap perempuan.Sebagian besar pelanggar yang pelecehan seksual terhadap anak-anak sebelum masa puber adalah pedofil,meskipun beberapa pelaku tidak memenuhi standar diagnosa klinis untuk pedofilia.

Berdasarkan hukum, “pelecehan seksual anak” merupakan istilah umum yang menggambarkan tindak kriminal dan sipil di mana orang dewasa terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak di bawah umur atau eksploitasi anak di bawah umur untuk tujuan kepuasan seksual.Asosiasi Psikiater Amerika menyatakan bahwa “anak-anak tidak bisa menyetujui aktivitas seksual dengan orang dewasa”, dan mengutuk tindakan seperti itu oleh orang dewasa: “Seorang dewasa yang terlibat dalam aktivitas seksual dengan anak adalah melakukan tindak pidana dan tidak bermoral yang tidak pernah bisa dianggap normal atau perilaku yang dapat diterima secara sosial.”

Pelecehan seksual pada anak adalah kenyataan yang menakutkan dan tidak menyenangkan di dalam dunia yang tidak menentu ini harus dihadapi. Apalagi,  pengaruhnya atas anak-anak bisa menghancurkan psiokososial, tumbuh dan berkembangnya di masa depan. Menurut berbagai penelitian, korban pelecehan seksual adalah anak laki-laki dan perempuan berusia bayi sampai usia 18 tahun. Kebanyakan pelakunya adalah orang yang mereka kenal dan percaya. Sebagai orangtua, sangat mutlak harus melindungi anak di sekitarnya untuk terlindung dari bahaya pelecehan seksual pada anak.  Pendidikan seksual dan pemberian informasi tentang permasalahan pelecehan seksual tampaknya dapat mencegah perilaku pelecehan seksual.

Terdapat beberapa informasi dan pengetahuan kepada anak yang perlu diberikan kepada anak agar terhindar dari kekerasan  seksual, sejak anak berusia 2-4 tahun.  Pada awalnya, anak harus dibritahukan  agar jangan berbicara atau menerima pemberian dari orang asing. Anak juga harus  selalu meminta izin orang tua jika akan pergi. “ Katakan pada anak bahwa mereka  harus segera melaporkan kepada bapak atau ibunya apabila ada orang yang  menyentuh alat kelamin atau tubuh mereka dengan cara yang tidak mereka sukai.  Katakan juga agar anak berteriak atau kabur jika merasa terancam oleh orang  yang tak dikenal. Agar anak dapat memahami bahwa orang lain dapat melakukan  hal-hal yang tidak menyenangkan kepada dirinya berkaitan dengan perbuatan  seksual dan upaya anak dapat memahami hal tersebut, pengenalan bagian tubuh  kepada anak mutlak dilakukan.

Tanggung Jawab orang tua

  • Tanggung jawab utama untuk melindungi anak-anak dari pelecehan ada pada orang tua, bukan pada anak-anak. Karena itu, orang tua harus terdidik sebelum bisa mendidik anak. Jika Anda orang tua, ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui. Anda perlu mengetahui ciri-ciri pelaku dan bagaimana modusnya. Orang tua sering membayangkan pelaku sebagai orang tak dikenal yang mengintai di kegelapan, mencari-cari cara untuk menculik dan memperkosa anak-anak. Orang jahat seperti itu memang ada. Media berita sering kali melaporkan tentang mereka. Namun, secara relatif mereka jarang ada. Dalam sekitar 90 persen kasus pelecehan seksual anak, pelakunya adalah orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh si anak.
  • Orangtua sulit untuk berpikir atau membayangkan bahwa manusia di sekitarnya yang dikenal baik seperti tetangga, guru, tenaga medis, pelatih olahraga, atau kerabat bisa berp[optensi melakukann pelecehan seksual pada anak. Dan, kebanyakan orang memang tidak begitu.  Padahal, sebagian besar pelakunya justru orang dekat yang dikenal anak atau keluarga. Memang seharusnya tidak perlu mencurigai setiap orang di sekitar. Namun, orangtua dapat melindungi anaknya dengan mengetahui karakteristik  seorang pelaku pelecehan.

Karakteristik Pelaku Pelecehan Seksual

  • Seorang pelaku pelecehan seksual pada anak atau pemerkosa biasanya  sangat  lihai sehingga tidak akan memaksa korbannya. Sebaliknya, ia mungkin lebih suka merayu anak-anak secara bertahap. Mula-mula, ia memilih calon korbannya, sering kali anak yang kelihatan tidak berdaya dan penurut, dengan demikian secara relatif mudah dikendalikan. Kemudian, ia memberikan perhatian khusus kepada anak itu. Ia mungkin juga mencoba mendapatkan kepercayaan orang tuanya. Para pemerkosa sering kali mahir berpura-pura menaruh minat yang tulus kepada si anak dan keluarganya.
  • Akhirnya, si pemerkosa akan mulai mempersiapkan si anak untuk dijadikan korban. Sedikit demi sedikit, ia mulai lebih banyak mengadakan kontak badan dengan si anak melalui pertunjukan kasih sayang, gulat-gulatan, dan gelitikan yang tampaknya polos. Ia mungkin menghujani si anak dengan hadiah dan mulai memisahkannya dari teman-teman, kakak adik, dan orang tua, supaya bisa berduaan saja dengan si anak. Pada suatu waktu, ia mungkin meminta si anak tidak menceritakan rahasia kecil kepada orang tua—mungkin tentang suatu hadiah atau rencana jalan-jalan. Taktik-taktik tersebut melicinkan jalan untuk rayuan. Sewaktu si pemerkosa telah mendapatkan kepercayaan si anak serta orang tuanya, ia siap beraksi.
  • Cara yang dilakukan tampaknya   tidak kentara, tidak kejam atau memaksa. Ia mungkin memanfaatkan keingintahuan wajar si anak tentang seks, menawarkan untuk menjadi ”guru”, atau ia mungkin mengajaknya mengadakan ”permainan istimewa” yang tidak boleh diketahui orang lain. Ia mungkin mencoba memperlihatkan pornografi kepada si anak supaya perilaku demikian tampak normal.
  • Jika ia berhasil memperkosa si anak, ia sekarang ingin sekali memastikan bahwa si anak tidak menceritakannya kepada siapa-siapa. Ia mungkin menggunakan berbagai taktik, misalnya dengan mengancam, memeras, dan menyalahkan, atau mungkin dengan mengkombinasikan cara-cara itu. Contohnya, ia mungkin mengatakan, ”Salah kamu sendiri. Kamu sih tidak menyuruh saya berhenti.” Ia mungkin menambahkan, ”Kalau kamu beri tahu Mama Papa, mereka akan memanggil polisi dan saya dipenjarakan untuk selamanya.” Atau, ia mungkin mengatakan, ”Ini rahasia kita berdua. Kalau kamu cerita, tidak ada yang bakal percaya. Awas kalau Mama Papa sampai tahu, akan saya hajar mereka.” Ada banyak sekali taktik licik dan jahat yang akan diupayakan orang-orang ini.
  • Dengan mengenali taktik-taktik tersebut, sebagai orang tua dapat lebih siap untuk bertindak dalam hal mencegah terjadinya segala sesuatu. Misalnya, jika seseorang, yang tampak lebih berminat pada anak-anak ketimbang orang dewasa, memberikan perhatian khusus dan hadiah-hadiah kepada anak Anda atau menawarkan untuk menjaganya tanpa bayaran atau bertamasya berduaan dengan anak. Meskipun bel;um tentu harus dicurigai sepenuhnya, paling tidak tidak ada salahnya saat itu mulai dilakukan tindakan preventif.

Memberi Pelajaran tentang seks pada anak

  • Membahas masalah seks pada anak memang tidak mudah. Namun, mengajarkan pendidikan seks pada anak harus diberikan agar anak tidak salah melangkah dalam hidupnya. Anak yang tidak tahu apa-apa tentang seks akan menjadi korban empuk berikutnya. Anak-anak yang kurang pengetahuan tentang seks jauh lebih mudah dibodohi oleh para pelaku p[elecehan seksual.  Sehingga  untuk melindungi anak dari segala sesuatu yang tidak diinginkan, amatlah penting memberikan edukasi khusus kepada anak. Pendidikan yang terkait adalah pendidikan seks dan pemberian informasi berbagai permasalahan yang berkaitan dengan upaya pelecehan seksual.
  • Pendidikan seks pada anak didefinisikan sebagai pendidikan mengenai anatomi organ tubuh yang dapat dilanjutkan pada reproduksi seksual. Dengan mengajarkan pendidikan seks pada anak, menghindarkan anak dari resiko negatif perilaku seksual. Karena dengan sendirinya anak akan tahu mengenai seksualitas dan akibat-akibatnya bila dilakukan tanpa mematuhi aturan hukum, agama, dan adat istiadat, serta kesiapan mental dan material seseorang.
  • Banyak orang tua merasa segan dan risi untuk membahas topik seks dengan anak-anak. Apalagi anak  mungkin lebih risi lagi, dan kemungkinan besar  dua masalah ini membuat lebih sulit untuk memulainya.  Pendidikan seks wajib diberikan orangtua pada anaknya sedini mungkin. Tepatnya dimulai saat anak masuk play group (usia 3-4 tahun), karena pada usia ini anak sudah dapat mengerti mengenai organ tubuh mereka dan dapat pula dilanjutkan dengan pengenalan organ tubuh internal
  • Pelajaran sederhana yang bisa dilakukan adalah   mulai sejak dini dengan menyebutkan bagian-bagian tubuh. Sebaiknya dipakai bahasa yang benar, bukan bahasa anak-anak, untuk memperlihatkan kepada mereka bahwa tidak ada satu bagian pun dari tubuh mereka yang aneh atau memalukan.” Petunjuk untuk menghindari pelecehan menyusul dengan sendirinya. Banyak orang tua memberi tahu anak-anak bahwa bagian tubuh yang tertutup pakaian renang bersifat pribadi dan khusus.
  • Pendidikan seks lain yang secara tidak disadari sudah dilakukan adalah mengajari anak untuk membersihkan alat genitalnya dengan benar setelah buang air kecil (BAK) maupun buang air besar (BAB), agar anak dapat mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain. Pendidikan ini pun secara tidak langsung dapat mengajari anak untuk tidak sembarangan mengizinkan orang lain membersihkan alat kelaminnya
  • Cara menyampaikan pendidikan seksual itu pun tidak boleh terlalu vulgar, karena justru akan berdampak negatif pada anak. Di sini orangtua sebaiknya melihat faktor usia. Artinya ketika akan mengajarkan anak mengenai pendidikan seks, lihat sasaran yang dituju. Karena ketika anak sudah diajarkan mengenai seks, anak akan kristis dan ingin tahu tentang segala hal.
  • Beberapa contojhn kasus dalam pembelajaran pendidikan seks pada anak misalnya mengatakan bahwa alat kelamin atau  penisnya adalah milik pribadi, dan bukan mainan. Tidak boleh dijadikan mainan oleh siapa pun—Mama, Papa, bahkan dokter. Sewaktu kami membawanya ke dokter, saya menjelaskan bahwa dokter hanya mau memeriksa dan karena itu boleh memegangnya.” Kedua orang tua ikut dalam pembicaraan singkat ini dari waktu ke waktu, dan meyakinkan si anak bahwa ia bisa memberi tahu mereka kapan saja jika ada yang menyentuhnya dengan cara yang tidak benar atau yang membuatnya merasa risi. Para pakar dalam bidang pengasuhan anak dan pencegahan penganiayaan menyarankan agar semua orang tua mengadakan percakapan serupa dengan anak-anak mereka.
  • Anak-anak perlu tahu bahwa ada yang suka meraba anak-anak atau menyuruh anak-anak meraba mereka dengan cara yang salah. Peringatan ini tidak perlu membuat anak-anak cemas, ketakutan atau mencurigai semua orang dewasa. ”Itu semacam petunjuk kewaspadaan dan keamanan saja.
  • Dibeberapa negara yang sudah maju  para orangtua telah mendapatkan buku panduan mengenai pendidikan seks agar mereka dapat menjawab setiap pertanyaan yang diajukan anak. Sementara di Indonesia, karena belum ada, maka sebaiknya para orangtua sigap dengan mencari informasi mengenai pendidikan seks di internet, buku bacaan, koran  atau majalah.

Tanda dan gejala pelecehan seksual

  • Gejala dan tanda seorang anak yang mengalami pelecehan seksual tidak selalu jelas. Ada anak-anak yang menyimpan rahasia pelecehan seksual yang dialaminya dengan bersikap manis dan patuh, berusaha agar tidak menjadi pusat perhatian. Meskipun pelecehan seksual terhadap anak tidak memperlihatkan bukti yang jels.
  • Namun, jika tanda-tanda yang mencurigakan tampak pada anak dan terlihat terus-menerus dalam jangka waktu panjang, kiranya perlu segera mempertimbangkan kemungkinan anak telah mengalami pelecehan seksual. Tanda dan indikasi pelecehan seksual antara lain memar pada alat kelamin atau mulut, iritasi kencing, penyakit kelamin, dan sakit kerongkongan tanpa penyebab jelas bisa merupakan indikasi seks oral.
  • Remaja Tandanya sama dengan di atas dan kelakuan yang merusak diri sendiri, pikiran bunuh diri, gangguan makan, melarikan din, berbagai kenakalan remaja, penggunaan obat terlarang atau alkohol, kehamilan dini, melacur, seks di luar nikah, atau kelakuan seksual lain yang tak biasa.
  • Tanda perilaku emosional dan sosial, antara lain sangat takut kepada siapa saja atau pada tempat tertentu atau orang tertentu, perubahan kelakuan yang tiba-tiba, gangguan tidur (susah tidur, mimpi buruk, dan ngompol), menarik diri atau depresi, serta perkembangan terhambat. Anak usia prasekolah Gejalanya sama ditambah tanda-tanda berikut: Tanda fisik: antara lain perilaku regresif, seperti mengisap jempol, hiperaktif, keluhan somatik seperti sakit kepala yang terus-menerus, sakit perut, sembelit. Tanda pada perilaku emosional dan sosial: kelakuan yang tiba-tiba berubah, anak mengeluh sakit karena perlakuan seksual. Tanda pada perilaku seksual: masturbasi berlebihan, mencium secara seksual, mendesakkan tubuh, melakukan aktivitas seksual terang-terangan pada saudara atau teman sebaya, tahu banyak tentang aktivitas seksual, dan rasa ingin tahu berlebihan tentang masalah seksual. Anak usia sekolah Memperlihatkan tanda-tanda di atas serta perubahan kemampuan belajar, seperti susah konsentrasi, nilai turun, telat atau bolos, hubungan dengan teman terganggu, tidak percaya kepada orang dewasa, depresi, menarik diri, sedih, lesu, gangguan tidur, mimpi buruk, tak suka disentuh, serta menghindari hal-hal sekitar buka pakaian.
  • Perlihatkan kepada anak bahwa menceritakan hal itu adalah perbuatan benar. Jangan desak anak untuk menceritakan detail pengalamannya. Anak harus diyakinkan bahwa dia tak bersalah. Hal ini dalam kenyataan tak mudah melakukannya karena anak kerap menganggap dirinyalah penyebabnya.
  • Bagaimana jika anak buka rahasia? Jagalah, jangan sampai anak terkejut oleh respons orang tua. Jika anak membuka rahasia, penting menyadari reaksi orang tua dan anak itu sendiri. Orang tua perlu tahu apa yang mesti dilakukan. Mendengar apa yang dialami anak mungkin kita merasa marah, terkejut, dan bingung. Semua itu adalah reaksi yang normal untuk .orang tua Tetapi, orang tua harus menjaga jangan sampai anak terkejut oleh respons kuatnayya. Jikaorang tua  dikuasai perasaan, bicaralah kepada rekan yang dipercayai. Kalau  orang tua merasa tak mampu berbicara dengan si anak, minta tolong ahli untuk mengolah perasaan sendiri dan memintanya berbicara dengan si anak.
  • Orang tuaharus belajar percaya apa yang dikatakan anak. Ketika anak-anak membuka rahasia pelecehan yang dialami, hampir semua dipastikan mengandung kebenaran. Mereka kadang mengatakan sedikit apa yang terjadi untuk melihat bagaimana reaksi kita. Kalau anak tampak kacau dan ceritanya tak logis, itu wajar.  Persepsi orang tua kerap berbeda dengan anak. Ketika mengatakan ujuang jari, yang dimaksudkannya adalah vaginanya. Anak bicara tentang boneka kura-kura yang dimainkannya di kamar mandi, padahal yang mau dikatakannya adalah penis tetangganya.
  • Perlihatkan kepada anak kesungguhan orang tua untuk mendukungnya dan pastikan anak dalam keadaan aman dan terlindungi. Pelecehan seksual anak adalah tindak kriminal. Di sini tidak berlaku hukum kerahasiaan. Katakan kepada anak bahwa  orang tuaakan menyampaikan cerita itu kepada orang lain demi keselamatan anak. Jangan buat janji untuk merahasiakannya.
  • Dampak pelecehan seksual pada anak yang sering terjadi adalah mengganggu kehidupan psikososial dan tumbuh berkembangnya. Kepekaan orang tua atas tanda-tanda pelecehan seksual dan tahu bagaimana meresponsnya kiranya akan sangat membantu ke arah berhentinya pelecehan seksual terhadap anak.
GAMBAR TANDA KEKERAAN DAN PELECEHAN SEKSUAL PADA ANAK

 

Referensi

  • American Psychiatric Association Committee on Nomenclature and Statistics (1952). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (ed. 1st). Washington, D.C: The Association. hlm. 39.
  • American Psychiatric Association: Committee on Nomenclature and Statistics (1980). Diagnostic and statistical manual of mental disorders (ed. 3rd). Washington, D.C: American Psychiatric Association. hlm. 271.
  • Diagnostic and statistical manual of mental disorders: DSM-III-R. Washington, DC: American Psychiatric Association. 1987. 
  • Tom Philbin, Michael Philbin (2007). The Killer Book of True Crime: Incredible Stories, Facts and Trivia from the World of Murder and Mayhem. Sourcebooks, Inc. hlm. 344. Diakses 2011-01-01.
  • World Health Organization, International Statistical Classification of Diseases and Related Health Problems: ICD-10 Section F65.4: Paedophilia (online access via ICD-10 site map table of contents)
  • Goldman, Howard H. (2000). Review of General Psychiatry. McGraw-Hill Professional Psychiatry. hlm. 374. ISBN 0838584349.
  • Ryan C. W. Hall, MD and Richard C. W. Hall, MD, PA, Mayo Clinic Proceedings A Profile of Pedophilia’.’ Retrieved September 29, 2009.
  • Lisa J. Cohen, PhD and Igor Galynker, MD, PhD (2009-06-08). “Psychopathology and Personality Traits of Pedophiles”. Psychiatric Times. Diakses 2010-10-15.
  • Fuller AK (January 1989). “Child molestation and pedophilia. An overview for the physician”. JAMA 261 (4): 602–6. 
  • Burgess, Ann Wolbert; Ann Wolbert (1978). Sexual Assault of Children and Adolescents. Lexington Books. hlm. 9–10, 24, 40.. “the sexual misuse and abuse of children constitutes pedophilia”
  • Ames MA, Houston DA (August 1990). “Legal, social, and biological definitions of pedophilia”. Arch Sex Behav 19 (4): 333–42.
  • Finkelhor, David; Sharon Araji (1986). A Sourcebook on Child Sexual Abuse: Sourcebook on Child Sexual Abuse. Sage Publications. hlm. 90.
  • Edwards, M. (1997) “Treatment for Paedophiles; Treatment for Sex Offenders.” Paedophile Policy and Prevention, Australian Institute of Criminology Research and Public Policy Series (12), 74-75.
  • Blaney, Paul H.; Millon, Theodore (2009). Oxford Textbook of Psychopathology (Oxford Series in Clinical Psychology) (ed. 2nd). Oxford University Press, USA. hlm. 528.  “Some cases of child molestation, especially those involving incest, are committed in the absence of any identifiable deviant erotic age preference.”
  • Beier, K. M., Ahlers, C. J., Goecker, D., Neutze, J., Mundt, I. A., Hupp, E., & Schaefer, G. A. (2009). Can pedophiles be reached for primary prevention of child sexual abuse? First results of the Berlin Prevention Project Dunkelfeld (PPD). The Journal of Forensic Psychiatry & Psychology, 20, 851–867.
  • Laws, D. Richard; William T. O’Donohue (2008). Sexual Deviance: Theory, Assessment, and Treatment. Guilford Press. hlm. 176. 
  • Blanchard R, Lykins AD, Wherrett D, Kuban ME, Cantor JM, Blak T, Dickey R, Klassen PE. Pedophilia, hebephilia, and the DSM-V. Arch Sex Behav. 2009 Jun;38(3):335-50. Epub 2008 Aug 7. PubMed PMID: 18686026.
  • Von Krafft-Ebing, Richard (1922). Psychopathia Sexualis. Translated to English by Francis Joseph Rebman. Medical Art Agency. hlm. 552–560. 
  • Roudinesco, Élisabeth (2009). Our dark side: a history of perversion, p. 144. Polity,
  • Forel, Auguste (1908). The Sexual Question: A scientific, psychological, hygienic and sociological study for the cultured classes. Translated to English by C.F. Marshall, MD. Rebman. hlm. 254–255.
  • Berlin, Frederick. “Interview with Frederick S. Berlin, M.D., Ph.D.”. Office of Media Relations. Diakses 2008-06-27.
  • Franklin, K. (2009). The public policy implications of ‘Hebephilia’: A response to Blanchard et al. Archives of Sexual Behavior, 38, 319-320. doi: 10.1007/s10508-008-9425-y
  • Seto MC, Cantor JM, Blanchard R (August 2006). “Child pornography offenses are a valid diagnostic indicator of pedophilia”. J Abnorm Psychol 115 (3): 610–5. . “The results suggest child pornography offending is a stronger diagnostic indicator of pedophilia than is sexually offending against child victims”
  • Quinsey, VL. (Jun 2003). “The etiology of anomalous sexual preferences in men.”. Ann N Y Acad Sci 989: 105–17; discussion 144–53. 
  • Crosson-Tower, Cynthia (2005). Understanding child abuse and neglect. Allyn & Bacon. hlm. 208. 
  • Richard Wortley, Stephen Smallbone. “Child Pornography on the Internet”. Problem-Oriented Guides for Police. No. 41: p14–16.Levesque, Roger J. R. (1999). Sexual Abuse of Children: A Human Rights Perspective. Indiana University. hlm. p64. 
  • Crawford, David (1981). “Treatment approaches with pedophiles.” Adult sexual interest in children. 181-217.
  • Marshall, W.L., Jones, R., Ward, T., Johnston, P. & Bambaree, H.E.(1991). Treatment of sex offenders. Clinical Psychology Review, 11, 465-485
  • Seto, M. C. (2008). Pedophilia and sexual offending against children: Theory, assessment, and intervention. Washington, DC: American Psychological Association.
  • Barbaree, H. E., Bogaert, A. F., & Seto, M. C. (1995). Sexual reorientation therapy for pedophiles: Practices and controversies. In L. Diamant & R. D. McAnulty (Eds.), The psychology of sexual orientation, behavior, and identity: A handbook (pp. 357–383). Westport, CT: Greenwood Press.
  • Barbaree, H. C., & Seto, M. C. (1997). Pedophilia: Assessment and treatment. In D. R. Laws & W. T. O’Donohue (eds.), Sexual deviance: Theory, assessment and treatment (pp. 175–193). New York: Guildford Press.
  • Maguth Nezu, C., Fiore, A. A. & Nezu, A. M (2006). Problem Solving Treatment for Intellectually Disabled Sex Offenders. International Journal of Behavioral Consultation and Therapy, 2, 266-275.
  • Pedophilia is one sexual disorder that is widely looked upon as legally, socially, and morally wrong.” Eric W. Hickey (2006). Sex crimes and paraphilia. Pearson Education (Digitized Oct 30, 2008). hlm. 537 pages. Diakses 2010-10-15.
  • Ben Spieckera; Jan Steutela (September 1997). “Paedophilia, Sexual Desire and Perversity”. Journal of Moral Education 26 (3): 331–342. 
  • McCartan, K. (Oct 2004). “‘Here There Be Monsters’: the public’s perception of paedophiles with particular reference to Belfast and Leicester.”. Med Sci Law 44 (4): 327–42. 

 

www.growupclinic.com

Supported By: GRoW UP CLINIC JAKARTA Yudhasmara Foundation GROW UP CLINIC I Address: JL Taman Bendungan Asahan 5 Jakarta Pusat, Jakarta Indonesia 10210 Phone : (021) 5703646 – 08131592-2012 GROW UP CLINIC II MENTENG SQUARE Address: Jl Matraman 30 Jakarta Pusat 10430 phone 29614252 – 08131592-2012 – 08131592-2013 www.growup-clinic.com Facebook: FB-Growup Clinic Page Facebook : Allergy Clinic Online. Professional Healthcare Provider “GRoW UP CLINIC” Dr Narulita Dewi SpKFR, Physical Medicine & Rehabilitation curriculum vitae HP 085777227790 PIN BB 235CF967 Clinical – Editor in Chief : Dr Widodo Judarwanto, Pediatrician Editor: Audi Yudhasmara email : judarwanto@gmail.com Mobile Phone O8567805533 PIN BBM 76211048 Komunikasi dan Konsultasi online : twitter @widojudarwanto facebook dr Widodo Judarwanto, pediatrician Komunikasi dan Konsultasi Online Alergi Anak : Allergy Clinic Online Komunikasi dan Konsultasi Online Sulit makan dan Gangguan Berat Badan : Picky Eaters Clinic Komunikasi Profesional Pediatric: Indonesia Pediatrician Onlin
Information on this web site is provided for informational purposes only and is not a substitute for professional medical advice. You should not use the information on this web site for diagnosing or treating a medical or health condition. You should carefully read all product packaging. If you have or suspect you have a medical problem, promptly contact your professional healthcare provider

Copyright © 2014, GRoW UP CLINIC Information Education Network. All rights+ reserved

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s