Farmakokinetik Buvanest, Obat Anestesi Yang Menewaskan 2 Pasien bedah

image

Dua orang pasien RS Siloam Karawaci meninggal dunia setelah mendapat injeksi obat bius yang salah. Dua pasien itu diinjeksi Buvanest Spinal 0,5 persen produksi Kalbe Farma, untuk kepentingan tindakan operasi. Injeksi diberikan di bagian punggung sebelum operasi dilakukan. Setelah operasi selesai, pasien tiba-tiba saja kejang dan gatal-gatal. Sempat dimasukkan ke ruangan ICU, pasien akhirnya mengembuskan napas terakhir

Dua pasien di Rumah Sakit Siloam Karawaci, Tangerang, meninggal dunia setelah pemberian obat anastesi Buvanest Spinal. Obat produksi PT Kalbe Farma ini diduga bukan berisi bupivacaine atau untuk pembiusan, melainkan asam traneksamat yang bekerja untuk mengurangi pendarahan. Beberapa phak menduga etiketnya atau bungkusannya tertukar.

Kasus ini terjadi terhadap pasien yang melakukan operasi caesar dan urologi. Kedua pasien meninggal dalam waktu berdekatan pada tanggal 12 Februari 2015. Sementara itu, pasien lainnya tidak mengalami masalah. Pasien mengalami gatal-gatal, sampai kejang, kemudian meninggal. Pada pasien operasi caesaria, bayinya selamat

Saat dua orang pasien, pada 12 Februari, pria dan wanita harus menjalani tindakan operasi. Seperti SOP yang ada, dua pasien itu harus mendapat injeksi lebih dulu. Dalam proses injeksi yang dilakukan dokter anastesi, rupanya isi dan label anastesi Buvanest Spinal terjadi ketidakcocokan. Diduga kandungan obat tersebut menandung obat lain yang tidak sesuai labelnya tetapi mengandung Asam Tranexamat. Namun dugan tersebut masih belum dibuktikan dan masih dalam penelitian dari berbagai pihak yang berwenang.

Sementara itu, pihak Kalbe juga telah melakukan penarikan semua produk Buvanest dari pasaran. Investigasi lebih lanjut tengah dilakukan bersama BPOM. Menurut External Communication Senior Manager PT Kalbe Farma Tbk, Hari Nugroho mengatakan pihaknya masih menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). “Terkait kasus Siloam, sejauh ini Kalbe masih menunggu penelusuran yang dilakukan oleh BPOM, jadi kita belum bisa memberikan langkah-langkah,” seperti yang dimuat sebuah media online (18/2). Pihak Kalbe Farma siap mematuhi seluruh rekomendasi BPOM yang dihasilkan dari proses investigasi tersebut. “Kalau BPOM ngasih rekomendasi, apapun itu, kami siap patuhi nantinya,” tambahnya. Ia menegaskan, demi menjamin keselamatan pihak konsumen, Kalbe Farma telah menarik peredaran obat Buvanest Spinal. “Yang jelas, Kalbe telah menarik seluruh peredaran Buvanest Spinal demi keselamatan konsumen serta sebagai tidak preventif,” tegasnya.

PT Kalbe Farma tbk rupanya pernah berkirim surat ke Otoritas Jasa Keuangan dan Bursa Efek Jakarta. Dalam keterangannya, surat ini menyampaikan informasi yang perlu diketahui publik. “Dalam rangka memenuhi Peraturan Bapepam-LK No.X.K.1 KEP-86/PM/1996 tanggal 24 Januari 1996 tentang keterbukaan informasi yang harus diumumkan pada publik, dengan ini PT Kalbe Farma Tbk (perseroan atau Kalbe) menyampaikan bahwa pada tanggal 12 Februari 2015 , Perseroan telah mengambil inisiatif untuk mulai melakukan penarikan sukarela secara nasional 2 (dua) produk yaitu seluruh batch Buvanest Spinal 0,5 persen, Heavy 4 ml dan Asam Tranexamat Generik 500 mg/Amp 5 ml batch no 629668 dan 630025,” kata Corporate Secretary, Vidjongtius, dalam surat yang terbit pada 16 Januari.

Buvanest Spinal

Obat injeksi Buvanest mengandung Bupivacaine. Obat injeksi untuk anestesi atau pembiusan lokal ini diindikasikan untuk anestesi Spinal atau penyuntikan tulang belakang. Obat anestesi ini biasanya digunakan untuk tindakan bedah urologi, saluran cerna, operasi kandungan atau anggota gerak bagian bawah.

Bupivacaine diindikasikan untuk infiltrasi lokal, saraf perifer blok, blok saraf simpatis, dan epidural dan blok ekor. Hal ini kadang-kadang digunakan dalam kombinasi dengan epinefrin untuk mencegah penyerapan sistemik dan memperpanjang durasi kerja. Formulasi obat ini digunakan untuk blok retrobulbar. Hal yang paling umum digunakan dalam anestesi lokal anestesi epidural selama persalinan, serta dalam manajemen nyeri pasca operasi

Bupivacaine mengikat bagian intraseluler pada voltage-gated sodium channels dan blok natrium pada area masuknya dalam sel-sel saraf, yang berfungsi mencegah depolarisasi. Tanpa depolarisasi, ada inisiasi atau konduksi sinyal nyeri dapat terjadi. Dalam kajian farmakokinetik tingkat penyerapan sistemik bupivacaine  tergantung pada dosis dan konsentrasi obat yang diberikan, cara pemberian, vaskularisasi dari situs administrasi, dan ada tidaknya epinefrin dalam persiapan.

Seperti lidokain, bupivakain adalah anestesi amino-amida; kepala aromatik dan rantai hidrokarbon dihubungkan oleh ikatan amida daripada ester seperti dalam anestesi lokal sebelumnya. Akibatnya, anestesi amino-amida lebih stabil dan cenderung tidak menyebabkan reaksi alergi. Tidak seperti lidocaine, bagian amino terminal bupivakain (Buvanest, mepivacaine, ropivacaine, dan levobupivacaine) yang terkandung dalam cincin piperidin. Obat ini dikenal sebagai xylidines pipecholyl.

Bupivacaine merupakan kontraindikasi pada pasien dengan reaksi hipersensitivitas dikenal untuk bupivacaine atau anestesi amino-amida. Hal ini juga kontraindikasi pada blok paraservikal kandungan dan intravena anestesi regional (Bier block) karena potensi risiko kegagalan tourniquet dan penyerapan sistemik obat dan serangan jantung. Kandungan bupicacaine 0,75% merupakan kontraindikasi pada anestesi epidural selama persalinan pada kasus serangan jantung refrakter.

Dibandingkan dengan anestesi lokal lainnya, bupivakain lebih beresiko menganggu jantung atau bersifat cardiotoksik. Namun, reaksi obat yang merugikan (ADR: adverse drug reactions ) jarang terjadi bila diberikan dengan benar. Kebanyakan ADR disebabkan oleh penyerapan dipercepat dari tempat suntikan, suntikan intravaskular yang tidak disengaja, atau degradasi metabolik yang lambat. Penggunaan obat ini jarang mengakibatkan  reaksi alergi.

Dampak efek samping biasanya disebabkan karena penyerapan sistemik bupivacaine terutama melibatkan sistem saraf pusat (SSP) dan sistem kardiovaskular. Efek CNS biasanya terjadi pada konsentrasi plasma darah. Awalnya, jalur penghambatan kortikal secara selektif menghambat, menyebabkan gejala eksitasi saraf. Pada konsentrasi plasma yang lebih tinggi, baik jalur penghambatan dan rangsang terhambat, menyebabkan depresi SSP dan berpotensi koma. Konsentrasi plasma yang lebih tinggi juga menyebabkan efek kardiovaskular, meskipun kolaps kardiovaskular juga dapat terjadi dengan konsentrasi rendah. Efek buruk SSP dapat menunjukkan cardiotoksisitas yang akan datang dan harus dipantau secara seksama.

Dampak

  • Susunan Saraf Pusat: mati rasa sekitar mulut, kesemutan wajah, vertigo, tinnitus, gelisah, cemas, pusing, kejang, koma
  • Kardiovaskular: hipotensi, aritmia, bradikardi, blok jantung, serangan jantung
  • Keracunan juga bisa terjadi dalam pengaturan injeksi subarachnoid selama anestesi spinal yang tinggi. Efek ini meliputi: parestesia, kelumpuhan, apnea, hipoventilasi, inkontinensia tinja, dan inkontinensia urin. Selain itu, bupivakain dapat menyebabkan chondrolysis setelah infus kontinu ke dalam ruang sendi.
  • Bupivacaine telah menyebabkan beberapa kematian ketika anestesi epidural ketika diberikan secara intravena dengan sengaja.
  • Pengobatan overdosis. Pada pengalaman klinis dengan bukti hewan menunjukkan intralipid, emulsi lipid intravena, dapat efektif dalam mengobati cardiotoxicity parah sekunder overdosis anestesi lokal, dan laporan kasus manusia penggunaan sukses dengan cara ini.  Rencana untuk mempublikasikan perawatan ini secara lebih luas telah dipublikasikan.
  • Kehamilan dan menyusui Bupivacaine dapat melalui plasenta dan merupakan obat kategori C kehamilan. Namun, telah disetujui untuk digunakan pada istilah dalam anestesi kandungan. Bupivacaine diekskresikan dalam ASI. Risiko menghentikan menyusui dibandingkan menghentikan bupivacaine harus didiskusikan dengan pasien.

Asam traneksamat

Asam traneksamat merupakan inhibitor fibrinolitik sintetik bentuk trans dari asam karboksilat sikloheksana aminometil. Secara in vitro, asam traneksamat 10 kali lebih poten dari asam aminokaproat. Asam traneksamat merupakan competitive inhibitor dari aktivator plasminogen dan penghambat plasmin. Plasmin sendiri berperan menghancurkan fibrinogen, fibrin dari faktor pembekuan darah lain, oleh karena itu asam traneksamat dapat digunakan untuk membantu mengatasi perdarahan akibat fibrinolisis yang berlebihan.

Indikasi obat ini digunakan sebagai fibrinolisis pada menoragia, epistaksis, traumatic hyphaemia, neoplasma tertentu, komplikasi pada persalinan (obstetric complications) dan berbagai prosedur operasi termasuk operasi kandung kemih, prostatektomi atau konisasi serviks. Hemofilia pada pencabutan gigi dan profilaksis pada angioedema herediter. Obat ini dalam anjuran pemakaian hanya diberikan pemberian penyuntuikan intravena bukan intra lumbal.

Referensi:

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s